SEPTEMBER
Penanggalan kali ini entah kenapa berwujud mata menangis
duka begitu banyak dimana mana
berceceran di lantai rumah sakit, di ruang tamu rumahku
di rumah rumah keluargaku.
Suara sirine dari ambulance mengaung di telinga
menjerit jerit meminta tolong, pilu dimana mana
tubuh dengan kepala terbelah itu digotong
banyak orang histeris lalu jatuh bedebam tak sadarkan diri
kematian, demikian aku menyebutnya.
September,
padamulah duka duka itu diceritakan
tak sedikit keluargaku telah kau pilih dalam kematian
tak sedikit pula kau coba dengan sakit
ini bukan salahmu, itu benar
aku juga tak sedang ingin menghakimimu
aku hanya sekedar menceritakan duka yang terjadi di penanggalanmu
Kepulangan kali ini
tentang saudaraku yang berbahagia menyambut takdirnya
meski duka duka itu tetap bersemayam di kalbu kami.
September,
sudah cukupkan sedih dan perih kami di sini
Tuhan, sudah cukupkan luka itu di hati kami.
-----
13 Sept 2013
Jumat, 13 September 2013
Kamis, 12 September 2013
#LegendaHororLokal : Lelaki yang Memotong Kelaminnya
Lelaki Yang Memotong Kelaminnya
Beberapa waktu lalu mungkin sekitar 2 atau 3 minggu, lupa yang jelas pernah kejadian di kampung saya. Seorang lelaki usia 23 tahun memotong kelaminnya hanya karena ia dengan ke-soktahuannya tidak akan pernah bsia menikah dan tidak akan ada perempuan yang mau sama dia. Stress dan akhirnya pada suatu pagi dia mengambil silet dan entah bagaimana kejadiannya potongan kelamin itu katanya sudah jatuh ke lantai kayu rumahnya. Saudaranya yang kebetulan melihat lelaki itu merintih kesakitan sembari memegangi selangkangannya bertanya penasaran.
"Kenapako hah?????? Apamu sakit? Kenapako guling-guling begitu??" Dengan logat bahasa makassarnya yang kental.
Saudaranya kaget bukan kepalang ketika melihat potongan kelamin itu berada tak jauh dari sisi lelaki itu. Serta merta saudaranya membekap mulut sendiri dan berteriak histeris, orang-orang mulai berdatangan dan membopong tubuh lelaki itu. Dibawa ke rumah sakit dalam keadaan sudah tidak sadar lagi dan darah mengalir dengan deras dari selangkangannya. Ada yang prihatin, ada juga yang tertawa (entah sisi lucunya ada dimana).
Tak lama setelah sampai di rumah sakit, lelaki itu meninggal karena kehabisan darah. Sementara potongan kelamin tadi sudah tak tahu ada dimana.
Orang-orang lupa bahwa potongan kelamin lelaki itu belum sempat di masukkan ke dalam kain kafan si lelaki ketika akan dikuburkan. Jadi pada tengah malam, katanya lelaki itu mendatangi tetangganya dan orang-orang di rumahnya. Ia mencari potongan kelaminnya.
Kurang lebih begini katanya:
"Carikan potongan kelaminku.... tolong... tolong carikan potongan kelaminku...."
Semua sontak terbangun bersamaan dan lekas mencari potongan kelamin itu. Semalam suntuk dicari namun tidak ditemukan juga. Baru menjelang subuh, akhirnya potongan kelamin itu ditemukan teronggok di dekat meja makan. Entah siapa yang membawa kesana, mungkin kucing, atau tikus. entahlah...
Hari itu juga, kuburan di bongkar dan potongan kelamin itu dimasukkan ke dalam kain kafan si lelaki. Terornya tak sampai disitu hingga bermalam-malam teror itu masih saja ada menghantui para tetangganya...
"Mana kelaminku.... mana........"
Sekian.
truestory: Tidak baik untuk ditiru. :))
#LEGENDAHORORRLOKAL - PARAKANG
PARAKANG
Ada satu legenda yang kerap
diceritakan penduduk desa apabila malam bulan purnama seperti ini. Menurut nenek
saya jika bulan sedang bulat penuh maka tengah malam biasanya muncul atau
keluarlah mahluk jadi-jadian yang disebut dengan nama “PARAKANG”. Mahluk ini
sangat ditakuti oleh penduduk desa, karena ia bisa muncul dimana saja, kapan
saja dengan wujud yang berbeda-beda. Bisa menjadi pepohonan, kucing, anjing dan
lain-lain. Namun pada dasarnya mahluk ini adalah manusia, manusia yang memiliki
ilmu hitam atau menganut ajaran tertentu yang ia peroleh dari seorang guru. Entah
guru apa namanya.
Jika bulan purnama mereka keluar dalam
keadaan telanjang dan menari di bawah sinar bulan, berputar dan membawa ‘dulang’
yang sesekali ditabuhnya. Maka dari kejauhan akan terdengar sayup-sayup suara
dulang yang ditabuh itu diselingi gonggongan anjing yang tiada henti. Bersamaan
itu pula makan angin akan bertiup lebih aneh dari biasanya yang membuat bulu
kuduk siapapun berdiri. Itu tandanya mereka sedang melakukan ritual, biasanya
puncak ritual akan terjadi ketika malam jumat dan sedang bulan purnama.
PARAKANG akan mengubah bentuknya
ketika ia akan berburu mangsa. Beberapa kali saya pernah mengalami kejadian
aneh sehubungan dengan mahluk jadi-jadian ini. Jika ada mahluk berupa hewan
misal anjing yang kamu lihat dan kepalanya lebih besar atau kaki belakangnya
lebih tinggi maka sudah pasti itu adalah jelmaan parakang. Maka berhati-hatilah
karena ia bisa menghisap darahmu hingga habis dari jarak jauh sekalipun hanya
dengan menatapmu dengan tajam tanpa memejam.
Malam itu saya hendak mencari bapak di
kolong rumah, kebetulan rumah saya rumah panggung. Ketika menuruni tangga ada
seekor hewan yang saya tidak bisa deskripsikan bentuknya antara anjing atau
kerbau. Sebab badannya besar seperti kerbau dan memiliki kepala seperti anjing
dengan ekor yang pendek seperti babi. Hewan itu menyeringai ke arah saya dengan
mata memerah. Tak perlu berpikir lama untuk saya bisa lari, sebab tak lama
kemudian saya seperti sedang dikejar oleh hewan itu. Saya seperti orang
kesurupan masuk ke kamar ibu dan memeluknya erat dengan keringat dingin sudah membanjiri.
Keesokan harinya saya demam tinggi dan sempat di bawa ke rumah sakit. Setelah dicek
ternyata saya kehilangan banyak darah. Entah dari mana mahluk itu menghisap
darah saya yang membuat saya nyaris kehilangan nyawa.
Semenjak peristiwa itu, saya tidak mau
lagi keluar malam tanpa pengawasan ibu atau kakak saya yang lain. Akhirnya oleh
nenek diceritakan bahwa untuk membuat mahluk bernama parakang itu lumpuh, maka
gunakan daun kelor dan pukulkan ke arah mahluk itu sebanyak tiga kali. Maka mereka
akan hilang begitu saja atau malah akan berubah ke wujud aslinya yaitu manusia.
Parakang akan menunggu kamu di mana
saja, tapi biasanya akan menunggu di bawah kolong rumah. Di pinggir jalan yang
banyak pepohonan terutama pohon pisang atau di pertigaan jalan yang sepi. Wujud
yang paling menyeramkan dari parakang yang pernah saya lihat adalah rambutnya
panjang, muka hancur tak berbentuk, dan melayang dengan payudara yang sudah
hancur pula hanya setengah dari badannya.
Parakang akan sering mendatangi orang
sakit, orang melahirkan, atau orang yang sedang hajatan. Jika mendatangi orang
sakit maka bisa jadi orang sakit itu akan meninggal lebih cepat dengan seluruh
tubuh membiru. Sedangkan jika ia mendatangi orang melahirkan maka anak yang
dilahirkan itu akan hilang di dalam perut atau keluar dengan bentuk yang sudah
hancur dan hanya berupa gumpalan daging. Jika mendatangi orang hajatan maka
biasanya akan banyak orang yang ditubuhnya terdapat bilur-bilur merah keunguan.
Ukurannya bisa besar sampai kecil-kecil dan seringkali bilur-bilur itu ada di
paha. Membuat siapa saja akan kehilangan kesadarannya dan jatuh pingsan.
Di desa saya ada seorang yang
dicurigai adalah Parakang, di saat dia mengalami sakaratul maut itu susahnya
minta ampun. Sangat lama dan bisa memakan waktu berhari-hari. Orang itu baru
meninggal ketika ada sanak saudaranya atau keluarganya yang membisikinya satu
kata “Lemba”. Maka tidak perlu tunggu lama orang itu akhirnya meninggal dan
orang yang membisikinya ‘lemba’ serta merta menjadi Parakang juga. Lemba
artinya pindah.
Parakang seringkali menyeringai tidak
jelas, bersuara aneh dan menyeramkan. “Grrrrrhhh..... guarrrrrhrhhhh....
Rrrraahhhh....!” kemudian berubah menjadi seperti desisan dan kadang juga
bersenandung aneh.
Di belakang rumah saya ada rumpun
pohon pisang setiap malam kamis ada suara-suara aneh dari gesekan daun pisang. Karena
semua orang di rumah tidak bisa tidur karena suara itu, maka bapak pun akhirnya
bangun dan mengecek ada apa di balik pohon pisang tersebut. Mungkin maling atau
apa. Karena penasaran saya dan kakak saya juga ikut di belakang bapak, tak di
sangka-sangka dari balik pohon pisang itu ada seorang perempuan dengan rambut
panjang hingga menyentuh tanah sedang memakan ayam yang masih hidup. Saya kaget,
kakak kaget dan bapak mungkin satu-satunya orang yang tidak kaget. Lutut saya
gemetar, keringat mengucur deras, saya ingin menutup mata tapi saya juga penasaran
ingin melihat rupa aslinya.
Bapak melempari batu dan tak lama
kemudian mahluk itu pergi dengan sekelebat lalu hilang entah kemana. Keesokan harinya
ada tetangga yang dikabarkan kena cedera di bagian punggung, tetangga saya ini
sudah lumayan tua tapi belum tua sekali. Katanya semalam saat tidur seperti ada
yang menimpuki dia batu hingga punggungnya memar. Dalam hati, saya akhirnya
tahu kalau tetangga yang sudah lama dicurigai memiliki ilmu hitam ini adalah
orang yang sama dengan orang yang semalam dilempar batu oleh bapak.
Rasakan....!
Itulah kisah legenda yang
hingga sekarang masih ramai diceritakan oleh penduduk desa dan Parakang itu
masih ada, masih berwujud segala macam dan masih menyeramkan. Wkwkw...
Kalo sempat bertemu salah satu
diantara mereka, sampaikan salamku ya. Hihi
Tuh siapa tuh berambut panjang
di belakangmu, sedang menghisap darah di lehermu....... “Grrrrrhhh.....
guarrrrrhrhhhh.... Rrrraahhhh....!”
Jeneponto, 13 September 2013
Kamis, 05 September 2013
PULANG
PULANG
yang kusebut pulang kali ini bukanlah semata-mata karena aku ingin kembali
tapi ragaku sudah tak lagi memuja kamu. Barangkali dalam pulang, mawar yang dulu kutanam
telah berbunga dan menjadi rekah di pagi hari. Sementara rindu sudah tak lagi menjadi hantu
dan aku bersyukur pernah membunuhnya di malam sunyi. Meski ia tak benar-benar mati.
aku pulang menunggang sepi, guyuran hujan tak hanya membuat pakaianku basah. Kedua mataku
justru lebih pandai membuat hati kuyup dan itu berarti karam sudah luka di sana.
Luka yang kemudian membusuk bersama sumpah serapah, tentang pengkhianatan, tentang kepalsuan.
Itu sebabnya aku pulang, enggan mati oleh luka
enggan suram oleh takdir
enggan terbunuh oleh rindu
Pulang...
aku tak lagi sama.
Jingga Lestari, 05 Sept 2013
yang kusebut pulang kali ini bukanlah semata-mata karena aku ingin kembali
tapi ragaku sudah tak lagi memuja kamu. Barangkali dalam pulang, mawar yang dulu kutanam
telah berbunga dan menjadi rekah di pagi hari. Sementara rindu sudah tak lagi menjadi hantu
dan aku bersyukur pernah membunuhnya di malam sunyi. Meski ia tak benar-benar mati.
aku pulang menunggang sepi, guyuran hujan tak hanya membuat pakaianku basah. Kedua mataku
justru lebih pandai membuat hati kuyup dan itu berarti karam sudah luka di sana.
Luka yang kemudian membusuk bersama sumpah serapah, tentang pengkhianatan, tentang kepalsuan.
Itu sebabnya aku pulang, enggan mati oleh luka
enggan suram oleh takdir
enggan terbunuh oleh rindu
Pulang...
aku tak lagi sama.
Jingga Lestari, 05 Sept 2013
Rabu, 04 September 2013
Aku LELAH
Jalan-jalan menjadi sunyi, sudah biasa kutemukan diriku bisu seperti ini. Diam yang mirip ketololan atau apalah namanya. Pandangan kosong menatap ketinggian pada langit yang menggantung di atasku. Aku mendadak tak ingat apa-apa, juga tak ingat siapa lagi aku saat ini. Pikiran melayang-layang, berganti-ganti pada masa silam, masa kini dan masa nanti. Sampai akhirnya kutemukan diriku hanya seonggok sepi di atas pembaringan.
"Ada apa ini ya Tuhan? Perasaan ini begitu kosong. Bisakah kuminta kembali padaMu? Bisakah aku katakan aku lelah?"
Barangkali di sini biar kuceritakan tentang sosok yang berpuluh-puluh tahun tinggal bersamaku dalam satu atap. Semua memanggilnya "Bapak". Sejujurnya aku sangat menyayanginya tanpa syarat apapun. Sungguh aku tak pernah mengingkari kehadirannya sebagai bapakku, juga tak pernah menyangkali bahwa beliau adalah suami dari ibu yang melahirkanku. Tapi sudah lama perasaan sayang itu dirasuki perasaan yang berbeda. Seperti kebencian. Dan aku tak bisa menolaknya.
Malam kemarin, kebencian itu rasanya tumbuh semakin subur. Dia pulang lagi dalam keadaan mabuk, berteriak ke seisi kampung dan membangunkan beberapa orang. Aku bahkan tak bisa lagi menangis untuknya. Airmataku membanjir hanya bila mengingat betapa sedihnya ibu di alam sana. Meninggalkan "Bapak" bagi anak-anaknya yang sekalipun tak pernah berusaha untuk bisa dewasa.
Aku jadi bosan tinggal di rumah, sempat kutinggalkan rumah selama setahun dan bekerja di kota orang hanya untuk menghindar dari perasaan benci yang akan mengungkung hari-hariku. Kukorbankan banyak hal hanya agar perasaan dan keadaan hatiku jauh lebih tenang. Tapi memang tak semudah itu menghadapi sesuatu yang sudah menjadi akar bagi seseorang. Aku ingin berteriak dan semua teriakan itu kini hanya tertahan di kerongkongan, aku berteriak siapa yang dengar?
Aku mulai membencinya sejak kali pertama kulihat ia membuat airmata ibu jatuh bercucuran. Bukan tubuh ibu yang tersiksa oleh perilakunya tapi hatinya yang terlanjur lelah terlanjur sakit dan akhirnya memendam luka diam-diam. Ini tidak adil...
Tuhan kali ini biarkanlah tangisku pecah di keheningan, isakku biar menyatu dan lebur bersama hujan.
"Aku lelah...."
"Ada apa ini ya Tuhan? Perasaan ini begitu kosong. Bisakah kuminta kembali padaMu? Bisakah aku katakan aku lelah?"
Barangkali di sini biar kuceritakan tentang sosok yang berpuluh-puluh tahun tinggal bersamaku dalam satu atap. Semua memanggilnya "Bapak". Sejujurnya aku sangat menyayanginya tanpa syarat apapun. Sungguh aku tak pernah mengingkari kehadirannya sebagai bapakku, juga tak pernah menyangkali bahwa beliau adalah suami dari ibu yang melahirkanku. Tapi sudah lama perasaan sayang itu dirasuki perasaan yang berbeda. Seperti kebencian. Dan aku tak bisa menolaknya.
Malam kemarin, kebencian itu rasanya tumbuh semakin subur. Dia pulang lagi dalam keadaan mabuk, berteriak ke seisi kampung dan membangunkan beberapa orang. Aku bahkan tak bisa lagi menangis untuknya. Airmataku membanjir hanya bila mengingat betapa sedihnya ibu di alam sana. Meninggalkan "Bapak" bagi anak-anaknya yang sekalipun tak pernah berusaha untuk bisa dewasa.
Aku jadi bosan tinggal di rumah, sempat kutinggalkan rumah selama setahun dan bekerja di kota orang hanya untuk menghindar dari perasaan benci yang akan mengungkung hari-hariku. Kukorbankan banyak hal hanya agar perasaan dan keadaan hatiku jauh lebih tenang. Tapi memang tak semudah itu menghadapi sesuatu yang sudah menjadi akar bagi seseorang. Aku ingin berteriak dan semua teriakan itu kini hanya tertahan di kerongkongan, aku berteriak siapa yang dengar?
Aku mulai membencinya sejak kali pertama kulihat ia membuat airmata ibu jatuh bercucuran. Bukan tubuh ibu yang tersiksa oleh perilakunya tapi hatinya yang terlanjur lelah terlanjur sakit dan akhirnya memendam luka diam-diam. Ini tidak adil...
Tuhan kali ini biarkanlah tangisku pecah di keheningan, isakku biar menyatu dan lebur bersama hujan.
"Aku lelah...."
Rabu, 28 Agustus 2013
Kepada Si Pemilik Wajah Teduh: Selamat Jalan Kakak!
Kabar kepergianmu begitu tiba-tiba, aku bahkan hanya mendengarnya dari seorang teman (kenalan) via telpon sesaat setelah ia menerima sebuah pesan lewat handphonenya yang mengabarkan bahwa seorang penyair, akademisi di Makassar telah meninggal, Ahyar Anwar. Ya DR. Ahyar Anwar yang selama ini kukenal. Tidak ada perjumpaan diantara kita, hanya ada janji yang waktu itu aku sempat iyakan, lalu sebutlah aku seorang yang tak tepat janji atas ini. Bahkan di saat kepergianmu aku sama sekali tidak mendatangi peristirahatan terakhirmu.
Katamu "Orang-orang akan menyadari makna dan nilai karya-karya saya setelah kematian saya nanti."
-Ahyar Anwar dalam Seminar Sastra di Jurusan Bahasa Inggris UNM sekitar tahun 2007-2008.
Iya dan itu tentu saja benar. Karya-karyamu adalah cinta yang tak pernah habis dibicarakan, darimulah aku belajar bagaimana memperlakukan rindu lewat aksara dan melewatinya dengan kesabaran tanpa menuntut. Lewat syairmu, lewat sajakmu, lewat tulisanmu. Hatiku mendadak pilu dan perih mendapati kabar ini, terlebih karena satu perjumpaan pun tak pernah ada untukku.
"MENIDURKAN CINTA" Barangkali itu yang kau lakukan saat ini, bertemu cinta yang sesungguhnya dan rindu yang sesungguhnya. Seperti halnya ucapmu;
"Di rinai hujan yang sama, di cahaya bulan yang sama, di hembusan angin yang sama, di kabut malam yang sama, aku kehilangan bayangan cinta tapi aku menemukan rindu yang sama..."Lewat cinta yang kau sebar ada motivasi yang selalu engkau sampaikan, bahwa mencintailah selagi engkau mampu dan merindulah selagi engkau merasa layak. Mungkin itulah makna yang bisa kusimpulkan setiap kali aku membaca-mu. Tak ada kata letih, lelah apalagi kalah. Engkau mengajarkan kepada banyak orang tentang realita yang kadang jadi bahan banyolan padahal itu sama sekali tak lucu. Kau adalah pencinta dan perindu sejati. Kepada wajah teduhmulah aku pernah menyimpan diam-diam segumpal rasa. Anggap saja itu konyol dan aku menikmatinya. Hanya diam-diam. Seperti itulah aku mengagumimu.
Dan ketika instrumen violin itu mengalun hatiku basah oleh airmata, mengenang perjumpaan yang tak pernah terjadi, mengenang janjiku yang terlanjur sirna. Maaf...
Ini sebuah perpisahan kecil, perpisahan terakhirku untukmu...
Pada malam ketika kudengar kepergianmu, aku berusaha menyembunyikan sesak yang menyerang tiba-tiba lewat geriap tawa. Namun, pada akhirnya aku berani mengatakan bahwa tawa itu sesungguhnya tak pernah ada. Hatiku menjelma biru, tak lagi jingga yang sama seperti warna senja yang sering kau ceritakan. Tak ada cerita memang diantara kita, juga tak ada kisah yang perlu dibanggakan sebab memang tak ada itu. Aku hanya pengagum yang selalu ingin membaca setiap tulisanmu, mengenal sosokmu lewat kata yang sudah coba kau rangkaikan. Ini tentang aku, bukan tentang kamu k. Perihal engkau yang sudah lebih dulu, maka tak ada hakku untuk menahan takdir. Sudah itu dan terjadi.
Diantara gelak tawa yang ada
kutemukan satu yang merupakan warnamu
kelembutan, keteduhan, penyerahan
itulah yang kau miliki
Pada semesta kau tak punya rahasia
Hanya pada kematian kau seperti serahasia
yang membentuk kotak-kotak teka-teki di kepalaku
Bagaimana bisa aku menjawabnya sendiri?
Aroma melati itukah aroma yang sepagi tadi adalah kabar tentangmu
Kabar mengejutkan tak aku duga duga
bagaimana bisa kita berpisah tanpa pertemuan?
tapi itu benar tak ada pertemuan berarti kita tak aka pernah terpisah
Sebagaimana hujan yang menyimpan serahasia
barangkali padanyalah kutitipkan tangisku yang kutahan dalam hening
bersama doa-doa yang juga kulangitkan malam ini
Berbahagialah karena pada akhirnya kau menemukan cinta dan rindumu yang sebenarnya
Al-Fatihah...
-----
Jenuh menunggu cerita,
bersama bayangan semu...
rindu mencumbu pelangi,
bersama jejari yang terselip ke dalam jejari
-----
Aku rasa telah sampai pada akhir dimana kelak hanya rindu yang menghadirkanmu di sini.
selamat jalan kakak, selamat jalan seseorang yang kukagumi keteduhan di wajahnya....
Innalillahi wainna ilaihi roji'un...
Jingga Lestari, 28 Agustus 2013
Selasa, 27 Agustus 2013
Maafkan aku, Terlahir Perempuan
Maafkan aku,
Terlahir Perempuan
Aku memiliki tiga saudara aku
adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakakku ber'vagina'
semua. Padahal sedari dulu ayah dan ibu
mengharapkan bisa punya anak laki-laki.
Setelah lahir anak pertama, ayah dan ibu masih merasakan suka cita
karena akhirnya mereka punya anak dan lahir dengan sehat normal. Kakak pertama
adalah anak kesayangan yang menyusul anak kedua dan juga ber'vagina'. Harapan
ibu sebelum melahirkan anak kedua adalah tetap sama, mengharapkan anak laki-laki.
Sementara ayah kabarnya tidak terlalu pusing dengan jenis kelamin apa nanti
anaknya lahir. Ibu mengharapkan anak laki-laki sebab kelak anak laki-laki
tersebut akan mewarisi seluruh kekayaan dari kakek nenek yang hanya punya anak
semata wayang yaitu ayah. Ibuku sedikit gila harta.
Di umur kakak pertama yang 5
tahun, kakak kedua 3 tahun, ibu mengandung lagi. Ibu dengan seluruh harapannya
mengerahkan usaha hanya untuk memperoleh anak laki-laki. Setiap saat ibu tak
pernah luput dari berdo'a, siang malam dan begitu seterusnya. Ibu adalah
seorang pegawai negeri sipil, ayah seorang Pustakawan dan juga penulis. Entah
bagaimana mereka bertemu, hanya Tuhan yang tahu rahasia pertemuan mereka.
Di kehamilan ibu yang ketiga, ia
sangat menjaga dirinya dan kandungannya. Karena tidak ingin terganggu
konsentrasi pekerjaan dan urusan hamil hamil-an itu. Kedua kakakku dikirim ke
rumah nenek di Kalimantan. Mereka di sana hingga menyelesaikan sekolah SMA. Ibu
yang seorang PNS selalu sibuk dengan urusan ini dan itu. Ayah pun sama sibuknya
di perpustakaan dan di ruangan kerjanya. Kadang mereka sama sekali tak bertemu
dalam sehari. Bahkan ayah akan tertidur sampai pagi di ruang kerjanya, ketika
ia sedang menyelesaikan beberapa tulisan.
Ibu sangat menyambut kehadiran kakak
ketiga, sebab ia yakin betul bahwa kali ini anaknya pasti ber'penis'. Dalam
hati ibu tersenyum puas dan bangga, tapi lagi-lagi kenyataan berbeda dengan apa
yang sudah ibu harapkan. Kakak ketiga lahir dengan sebuah lubang. Ibu setelah
melahirkan masih sangat lemas dan nyaris tak sanggup melihat wajah anak bayinya
yang masih merah pink itu, apalagi terlahir dengan vagina.
Ibu mogok makan. Tapi pada
akhirnya harapan ibu kembali lagi. Ia bertekad untuk hamil lagi. Setelah
kehamilan yang ketiga, ia berjanji akan melahirkan anaknya yang keempat. Ayah
tentu tak masalah. Program bayi pun direncanakan, semua yang berbau medis atau
magis pun diupayakan demi seorang anak yang ber'penis' itu. Nasib kakak ketiga
sama, ia kembali diungsikan ke rumah nenek lantaran ibu tak mampu mengurus anak
dengan segala kesibukannya.
Di kehamilan keempat yang berarti
akulah yang di kandung ibu, ibu semakin gencar melakukan beberapa pemeriksaan
ke dokter bahkan sampai dukun. Ibu rela mengeluarkan budget yang lebih banyak
lebih besar hanya untuk kehamilan keempat yang diharapkannya sebagai laki-laki.
Ibu malah sengaja mengambil cuti hamil lebih dini dan memberikan sepenuhnya
perhatian kepada aku yang masih dalam kandungan.
Setelah kehamilan ibu yang lumayan
besar, ibu memeriksakan diri ke dokter. Tapi kabarnya, setiap kali melakukan
CT-scan untuk ibu hamil, baik dokter mau pun ibu tak pernah tahu aku berjenis
kelamin apa. Waktu itu kelaminku seperti terhalang benang-benang laba-laba.
Jadilah dokter dan ibu dalam tanda tanya besar yang itu berarti sama sekali
tidak memberikan jawaban atas kelamin apa aku ini.
Hingga kehamilan ibu berusia
sembilan bulan, ibu merasakan keram dan sakit luar biasa di bagian perut dan
kemaluannya. Itulah hari dimana aku lahir dari rahim ibu lewat vaginanya.
Dipenuhi rasa cemas, gelisah dan deg-degan ibu melahirkan aku di rumah sakit
yang terbilang mahal. Setelah aku lahir dan ibu mengetahui bahwa jenis
kelaminku bukanlah sebuah penis melainkan vagina, saat itulah kebencian ibu
mulai tumbuh. Kebencian ibu pada kelahiranku dan kebencian ibu terhadap
vaginaku.
Menurut ayah sedari lahir aku tak
pernah disusui oleh ibu. Ibu bahkan tak ingin melihat wajahku. Ibu lumayan
depresi dan terpaksa berhenti jadi PNS. Ibu juga tak pernah membacakan dongeng
sebelum tidur atau nyanyian seperti nina bobo. Aku kesepian. Di ayunan aku
diam, aku dirawat oleh seorang baby sitter yang disewa oleh ayah. Aku makan dan
minum lewat baby sitter, mandi, buang air kecil atau besar semua dilakukan baby
sitter. Akhirnya aku semakin jauh dari ibu dan hanya mengenal satu perempuan di
dalam hidupku yaitu baby sitterku yang berhati lembut.
Ibu juga tidak pernah memasak
untukku, bahkan aku sangsi bahwa ibu benar-benar bisa memasak. Hanya satu hal
yang membuatku bersyukur adalah aku tidak dikirim ke rumah nenek di Kalimantan
sama seperti ketiga kakakku. Aku tinggal di rumah bersama ayah dan ibu, satu
atap meski jarang bertatap. Ayah sangat sayang padaku, ayah seringkali
membawaku ke ruang kerjanya, ke perpustakaannya, kemana saja asal aku bisa senang
dan jauh dari omelan ibu yang seperti tak akan pernah berakhir.
Kenyataan bahwa aku sama sekali
tak mirip ibu dan ayah adalah hal menyakitkan buat aku. Ibu tentu saja semakin
membenciku, bahkan tak menganggap bahwa aku ini adalah anak yang dilahirkan
dari rahimnya sendiri, dari vagina yang pada akhirnya justru ia tak
menginginkannya sama sekali. Dengan ibu yang begitu membenci aku, aku jadi
terbiasa sendiri dan tidak mempedulikan apapun di sekitar. Aku memiliki hidupku
sendiri.
Semua menjadi puncaknya ketika
ayah pada akhirnya meninggal setelah aku berumur 17 tahun. Aku kehilangan satu
satunya tumpuan hidupku, satu-satunya orang yang paling menyayangi aku. Ayah
meninggal di ruang kerjanya, barangkali saat ia bekerja atau menulis malaikat
maut datang begitu saja dan mencabut nyawanya tanpa diketahui siapapun. Ketika
itu, aku menangis lebih banyak dari biasanya. Aku mengurung diri selama
berminggu-minggu dan tidak mendaftar ke perguruan Tinggi. Aku bersedih,
kesedihan yang teramat dalam.
Karena tak tahan melihat aku
mengurung diri terus-terusan, ibu mengusirku dari rumah. Dia tega melakukan
itu. Barangkali hanya ibuku yang seperti itu di dunia ini. Tapi aku memaafkan
semua itu bahkan tanpa ibu meminta maaf sekali pun. Bagaimana pun surga ada di
telapak kaki ibu. Atas usiran ibu itu, aku resmi hidup di jalanan. Hidup
sebagai apa saja yang aku inginkan, menjadi pengamen, menjadi preman, menjadi
pemalak, bahkan menjadi seorang lesbian.
Beberapa teman lesbianku mempunyai
latar belakang yang mirip denganku, tidak diterima dengan baik di dalam lingkar
keluarganya. Atau karena mereka telah jera disakiti berkali kali oleh orang
yang berpenis. Kehidupanku semakin sembrawut, aku tak pernah lagi mendengar
kabar ibu, kabar kakak-kakakku atau kabar dari siapapun tentang keluargaku. Aku
sempurna hidup sendiri di tengah rimba raya kota yang bahkan jauh lebih
berbahaya ketimbang hutan liar sekalipun.
Aku mabuk-mabukan sepanjang hari,
melakukan hubungan seksual dengan beberapa teman lesbian, merokok dan
narkotika. Aku melupakan diriku sendiri, aku sudah bukan lagi 'aku' yang
sebenarnya. Kehidupan foya-foya itu berlangsung selama umurku hinggap di angka
27 tahun. Cukup lama. Duniaku dipenuhi bayangan hitam.
Sampai sekarang aku masih
mengutuki siapapun yang memarginalkan setiap anak yang terlahir sebagai
perempuan. Kenapa memang kalau ber'vagina? Bukankah itu bagus untuk berkembang
biak? Bukankah itu bagus untuk semakin menambah populasi dunia? Laki-laki, aku
tidak membencinya, hanya saja aku menjadi tak diakui di keluargaku hanya karena
terlahir sebagai perempuan. Atau karena aku ber'vagina'.
Secara tidak sengaja, aku
mendengar sebuah berita dari seseorang yang menemukanku di jalan. Ia mengatakan
bahwa ibuku saat ini sedang sakit keras bahkan mungkin tak lama lagi akan
meregang nyawa. Wajahku saat mendengar berita itu, datar-datar saja. Bahkan
sempat tersenyum miris, mengakibatkan kepala tetanggaku itu bertanya-tanya.
Aku diajaknya ke sebuah pelataran
mesjid, aku menunggu di luar sementara ia menyelesaikan sembahyang asharnya.
Selama menunggu, di kepalaku sudah terngiang beberapa kali kalimat "ibu
sakit". Ah sudah lama sekali, aku tak pernah menyebut nama ibu. Bahkan
nama itu sudah sangat asing di bibirku. Getir. Entah kenapa, tapi semua tentang
ibu kembali terbayang di benakku, di kepalaku. Semua tentang kebencian ibu. Tak
aku sadari, aku tiba-tiba menjadi orang cengeng dan merasakan hatiku pilu,
sangaaaat pilu.
Tetanggaku kembali menemuiku di
pelataran mesjid. Ia berkali-kali menasehatiku, bahka secara kasar menyuruhku
untuk pulang dan meninggalkan semua dunia 'kotor' yang sekarang kulakoni. Ya,
dia menyebutnya dunia kotor. Aku tak menyangkal apapun, juga tak membenarkan
apapun dari perkataannya. Barangkali hatiku sudah lama membeku, hingga tak
mampu membedakan beberapa hal. Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan.
Itu saja.
Selang beberapa waktu setelah
pertemuan tak disengaja itu dengan tetangga, aku menyelinap malam-malam ke
dekat rumah ibu. Mengintip di kejauhan. Kenangan masa kecilku kembali menguap
di udara. Tentang ayah, tentang kemarahan ibu, tentang keputusannya mengusirku
dan tentang semua yang sudah kulewati selama belasan tahun di rumah itu. Nampak
suasana rumah teramat muram, lampu-lampu hanya menyala di beberapa tempat.
Sangat tidak terurus dan menyimpan ribuan tanda tanya di benakku.
Aku mengintai selama beberap malam
dan suatu ketika aku kepergok seseorang yang waktu itu hendak ke rumahku. Dia
masih mengenali wajahku, melangkah teramat tergesa-gesa dan akhirnya
menemukanku di balik belukar bunga-bunga yang tak terawat.
"Masuklah!" Begitu katanya. Aku masih bergeming di tempatku berdiri.
"Masuklah!" Berkali-kali ia merajukku untuk masuk dan berkali-kali
itu pula jawabanku hanya diam terpaku di tempat yang sama.
Ibu-ibu itu pergi tanpa peduli
lagi denganku, ia masuk ke dalam rumahku. Lalu tergopoh-gopoh kembali keluar
rumah dan memanggil beberapa tetangga. Aku mendengar jeritan kakak perempuanku
dari dalam rumah. Terjadi sesuatu, pikirku. Entah apa yang merasukiku, saat itu
juga aku melompati belukar bunga-bunga itu dan menerobos pintu rumah lalu
masuk. Mata ketiga kakakku terpana melihatku tiba-tiba berada di sana. Selama
sekian detik mereka mangap lalu bersama-sama menutup mulutnya karena kaget.
Aku tak peduli lagi dengan
kekagetan ketiga saudaraku. Aku menuju tempat di mana ibu terbaring. Ia begitu
lemah, dadanya naik turun menghadapi maut. Barangkali akulah yang ditunggunya.
Ibu ketika melihatku sama kagetnya dan lalu meraih tanganku. Ibu mengucapkan
beberapa kalimat dari bibirnya yang sudah tidak terdengar dengan jelas. Tapi
aku menangkapnya, menangkap suaranya yang perlahan mengucap "maafkan ibu,
nak!"
Aku menangis di hadapannya, itu
airmata terbanyakku setelah airmata untuk ayah. Aku bersimpuh di kakinya,
menciumi kakinya. Lalu memeluknya untuk yang terakhir kali barangkali. Setelah
aku mengucap "Maafkan aku, terlahir perempuan." Ibu menangis semakin
deras dan akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ibuku meninggal di
malam ulang tahunku, di malam aku diusir dari rumah dan di malam aku kembali
lagi ke rumah.
"Ibu... Maafkan aku, terlahir
perempuan".
Jingga Lestari
Di tulis dari atas sebuah mobil
angkot pulang ke rumah.
18agustus2013
Langganan:
Postingan (Atom)


