Jalan-jalan menjadi sunyi, sudah biasa kutemukan diriku bisu seperti ini. Diam yang mirip ketololan atau apalah namanya. Pandangan kosong menatap ketinggian pada langit yang menggantung di atasku. Aku mendadak tak ingat apa-apa, juga tak ingat siapa lagi aku saat ini. Pikiran melayang-layang, berganti-ganti pada masa silam, masa kini dan masa nanti. Sampai akhirnya kutemukan diriku hanya seonggok sepi di atas pembaringan.
"Ada apa ini ya Tuhan? Perasaan ini begitu kosong. Bisakah kuminta kembali padaMu? Bisakah aku katakan aku lelah?"
Barangkali di sini biar kuceritakan tentang sosok yang berpuluh-puluh tahun tinggal bersamaku dalam satu atap. Semua memanggilnya "Bapak". Sejujurnya aku sangat menyayanginya tanpa syarat apapun. Sungguh aku tak pernah mengingkari kehadirannya sebagai bapakku, juga tak pernah menyangkali bahwa beliau adalah suami dari ibu yang melahirkanku. Tapi sudah lama perasaan sayang itu dirasuki perasaan yang berbeda. Seperti kebencian. Dan aku tak bisa menolaknya.
Malam kemarin, kebencian itu rasanya tumbuh semakin subur. Dia pulang lagi dalam keadaan mabuk, berteriak ke seisi kampung dan membangunkan beberapa orang. Aku bahkan tak bisa lagi menangis untuknya. Airmataku membanjir hanya bila mengingat betapa sedihnya ibu di alam sana. Meninggalkan "Bapak" bagi anak-anaknya yang sekalipun tak pernah berusaha untuk bisa dewasa.
Aku jadi bosan tinggal di rumah, sempat kutinggalkan rumah selama setahun dan bekerja di kota orang hanya untuk menghindar dari perasaan benci yang akan mengungkung hari-hariku. Kukorbankan banyak hal hanya agar perasaan dan keadaan hatiku jauh lebih tenang. Tapi memang tak semudah itu menghadapi sesuatu yang sudah menjadi akar bagi seseorang. Aku ingin berteriak dan semua teriakan itu kini hanya tertahan di kerongkongan, aku berteriak siapa yang dengar?
Aku mulai membencinya sejak kali pertama kulihat ia membuat airmata ibu jatuh bercucuran. Bukan tubuh ibu yang tersiksa oleh perilakunya tapi hatinya yang terlanjur lelah terlanjur sakit dan akhirnya memendam luka diam-diam. Ini tidak adil...
Tuhan kali ini biarkanlah tangisku pecah di keheningan, isakku biar menyatu dan lebur bersama hujan.
"Aku lelah...."
Tampilkan postingan dengan label Cuap1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cuap1. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 September 2013
Kamis, 25 Juli 2013
#Juli - Karena Saya Rindu
Sudah lama sekali rasanya dunia blog saya tinggalkan, bahkan nyaris terlupakan. Beberapa blog malah terbengkalai dan akhirnya kehapus dengan sendirinya. Entah karena lupa password atau karena rasa kebosanan yang menganjak naik tiba-tiba di kepala. Biasanya sih karena kebosanan. :D
Kali ini, saya kembali membuat blog bercuap cuap seperti di rumah sendiri. Berusaha kembali mengingat-ngingat gimana cara mempercantik tampilan dan lain-lain. Tapi yang terpenting sekarang adalah bagaimana memperhatikan konten dan tetap konsisten terhadap konten tersebut. Yaks, kali ini saya berusaha menorehkan kata-kata yang identik dengan hujan. Mengapa? Karena saya sangat menyukai hujan. Ibaratnya sudah bersenyawa dengan hujan. Awalnya hanya penikmat, lalu kemudian menjadi pengamat, lalu akhirnya jatuh cinta. ceileh... :)
Hujan adalah bagaimana berekspresi dan mengeksplore setiap kata hingga akhirnya bertangkai dan jadi sebuah pohon kata. Hujan juga identik dengan rindu, kesunyian, sepi, dan hujan juga identik dengan kenangan.
Saya yakin di dunia ini banyak sekali yang memuja hujan, tapi tak sedikit juga merisaukan kehadirannya. Tapi itulah, apapun yang diciptakan Tuhan adalah sesuatu yang baik dan buruk. Tinggal bagaimana kita menanggapi dan bagaimana menggunakannya.
Jujur saya sedang sangat merindukan seseorang yang juga identik dengan hujan. Darinyalah aku berpikir untuk menuliskan kata bertangkai lewat syair hujan. sengaja atau tidak barangkali suatu saat nanti dia pun akan membaca setiap kata bertangkai yang ada di blog ini.
Kayaknya sudah terlalu banyak kata pengantar mengapa saya buat blog lagi. Alasannya yaitu tadi, karena saya sedang RINDU. :)
Salam hujan, Salam kata bertangkai.
25Juli2013
Langganan:
Postingan (Atom)
