SEPTEMBER
Penanggalan kali ini entah kenapa berwujud mata menangis
duka begitu banyak dimana mana
berceceran di lantai rumah sakit, di ruang tamu rumahku
di rumah rumah keluargaku.
Suara sirine dari ambulance mengaung di telinga
menjerit jerit meminta tolong, pilu dimana mana
tubuh dengan kepala terbelah itu digotong
banyak orang histeris lalu jatuh bedebam tak sadarkan diri
kematian, demikian aku menyebutnya.
September,
padamulah duka duka itu diceritakan
tak sedikit keluargaku telah kau pilih dalam kematian
tak sedikit pula kau coba dengan sakit
ini bukan salahmu, itu benar
aku juga tak sedang ingin menghakimimu
aku hanya sekedar menceritakan duka yang terjadi di penanggalanmu
Kepulangan kali ini
tentang saudaraku yang berbahagia menyambut takdirnya
meski duka duka itu tetap bersemayam di kalbu kami.
September,
sudah cukupkan sedih dan perih kami di sini
Tuhan, sudah cukupkan luka itu di hati kami.
-----
13 Sept 2013
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 September 2013
Kamis, 05 September 2013
PULANG
PULANG
yang kusebut pulang kali ini bukanlah semata-mata karena aku ingin kembali
tapi ragaku sudah tak lagi memuja kamu. Barangkali dalam pulang, mawar yang dulu kutanam
telah berbunga dan menjadi rekah di pagi hari. Sementara rindu sudah tak lagi menjadi hantu
dan aku bersyukur pernah membunuhnya di malam sunyi. Meski ia tak benar-benar mati.
aku pulang menunggang sepi, guyuran hujan tak hanya membuat pakaianku basah. Kedua mataku
justru lebih pandai membuat hati kuyup dan itu berarti karam sudah luka di sana.
Luka yang kemudian membusuk bersama sumpah serapah, tentang pengkhianatan, tentang kepalsuan.
Itu sebabnya aku pulang, enggan mati oleh luka
enggan suram oleh takdir
enggan terbunuh oleh rindu
Pulang...
aku tak lagi sama.
Jingga Lestari, 05 Sept 2013
yang kusebut pulang kali ini bukanlah semata-mata karena aku ingin kembali
tapi ragaku sudah tak lagi memuja kamu. Barangkali dalam pulang, mawar yang dulu kutanam
telah berbunga dan menjadi rekah di pagi hari. Sementara rindu sudah tak lagi menjadi hantu
dan aku bersyukur pernah membunuhnya di malam sunyi. Meski ia tak benar-benar mati.
aku pulang menunggang sepi, guyuran hujan tak hanya membuat pakaianku basah. Kedua mataku
justru lebih pandai membuat hati kuyup dan itu berarti karam sudah luka di sana.
Luka yang kemudian membusuk bersama sumpah serapah, tentang pengkhianatan, tentang kepalsuan.
Itu sebabnya aku pulang, enggan mati oleh luka
enggan suram oleh takdir
enggan terbunuh oleh rindu
Pulang...
aku tak lagi sama.
Jingga Lestari, 05 Sept 2013
Langganan:
Postingan (Atom)