Rabu, 31 Juli 2013

Aku Mencintaimu, Tertanda HUJAN!



“Aku Mencintaimu”,  Tertanda HUJAN!

Terjebak dalam belukar matamu
Terbakar sinaran menyilaukan ketika engkau menatap
Terhanyut ketika engkau menangis
Akhirnya aku tak bisa kemana-mana,
Selain kembali lagi pada matamu yang bening.

Damailah hati, semesta bernyanyi
Kau menjelma hujan,
Kau rindu yang sampai di jemariku
Kau rindu yang sampai di rumahku
Kau rindu yang mengajakku menari
Kau rindu yang sesakkan dadaku.
Akhirnya padamu juga rindu berlari.

Harusnya tak perlu lagi aku menunggu,
kuyakin kau akan kembali bersama rintik hujan yang endapkan laraku.
Pada sunyi telah kusabdakan mengenai kau dan aku
Yang bersanding di pelaminan di atas awan kita kan satukan janji.
Aku mencintaimu,
Tertanda, HUJAN!

Minggu, 28 Juli 2013

PETI MATI



"Dia Sudah Kembali?"

Mata ibu mulai berkaca-kaca, pertanyaannya hanya mendapat jawaban berupa anggukan. Kami Ibu anak berpelukan.

"Tapi dimana dia?"

Pertanyaan ibu diikuti beberapa pasang mata yang ikut hadir di rumahnya yang tidak terlalu besar itu. Tatapan ibu nanar dan juga mengawasi setiap orang. Ibu mencari tentu saja.

"Dimana dia?

Ibu lagi-lagi bertanya.

"Tuan, dimana ayah saya?"

Sebuah peti mati muncul diantara kerumunan orang. Di bawa oleh 6 orang berpakaian hitam-hitam. Ibu kaget, aku hanya bisa membekap mulutku yang menganga.

"Mana suamiku?
"Mana ayahku?

Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir dan jawabannya hanya satu. Peti Mati.

Ayah gugur di medan perang.

-------------------------------
Setiap pertanyaan akan selalu memiliki jawaban, tapi tidak semua pertanyaan mendapatkan jawaban yang baik.

#Untukmu2 -Hujan-

-HUJAN-



Hujan...
Apakah kita hanya akan seperti ini?
Aku hanya bisa memandangmu,
terkadang menyentuh tapi tak mampu tergenggam
kau selalu lolos diantara jejariku.

Hujan...
Apakah kita akan terus begini?
aku merindukanmu
tapi tak pernah merasa kau merindukanku
kau selalu raib dari mataku.

Hujan...
Bisakah kita?
Bisakah aku dan kamu jadi 'kita'
yang tak pernah berakhir jadi sejarah.

Hujan...
mataku
lelah
tapi
hatiku
tak mau jera
mencintaimu
sekali lagi.

Hingga membuatmu paham
bahwa aku selalu menyertakan doa
di setiap kali sujudku menyentuh sajadah
bahwa suatu waktu
pada hari yang tak pernah kita ketahui
pertemuan adalah akhir dari segalanya.

Hujan...
aku menunggu
meski tak tentu waktu
kapan
engkau 
pulang.

------------
Hujanrintih2

Ini Tentang Ibu

Ini Tentang Ibu...


Ini tentang ibuku, beliau sosok yang bisa dibilang srikandi keluarga. Bayangin saja, menghidupi 6 orang anak yang jarak umurnya tidak terlalu jauh. Sungguh repotnya. Ibu untuk bisa tetap bertahan hidup, ia bertani, ia berjualan dan ia melakukan apa saja untuk bisa makan sehari-hari. Bapak? Bapak ada, tapi ibulah yang seingatku dan seingat saudara-saudaraku paling paling mengusahakan hidup kami. 

Makan nasi garam dan minyak tanak itu sudah seperti tradisi di rumah kami. Bahkan kadang pula hanya makan nasi saja. Ikan teri adalah makanan favorit yang sering kali membuat aku dan kakak-kakakku rebutan. Bayangkan, ikan teri saja bisa membuat kita berenam rebutan apalagi ayam atau daging? Ya, kala itu kehidupan keluarga memang terasa sekali sulitnya. Berkali-kali aku dan kakakku terserang penyakit kolera atau bisul-bisul bernanah. Bahkan pernah aku dan kakakku yang kedua dan ketiga nyaris seluruh badan terkena bisul bernanah. Ibu tak pernah mengeluh akan hal itu, sekalipun tak. Luar biasa....

Tak hanya itu, kadang ulat keluar dari luka bernanah di tubuh kakakku. Mulai saat itulah aku fobia ulat. Kakakku digunduli kepalanya karena kepala tersebut menjadi sarang luka bernanah dan ulat-ulat kecil seringkali melompat dari lubang luka itu. Ibu tidak pernah risih, ibu tidak pernah jijik. Beliau selalu punya cara mengatasi setiap masalah. Itu yang selalu aku liat dari ibu, selain tabah, sabar, kuat, ibu juga adalah contoh terbaik dalam keluarga.

Membiayai sekolah 6 orang anak, tadinya kami pikir sekolah kami akan terlantar. Tapi tidak juga. Kakak pertama selesai S1 di bidang Sospol, kakak kedua pun selesai S1 PGSD, kakak ketiga juga selesai S1 PAI, Kakak ke empat S1 Bahasa Indonesia, Kakak kelima selesai S1 PAI, Aku? Aku juga selesai S1 Pendidikan Matematika. Itulah hebatnya tenaga, usaha, dan do'a seorang ibu.

Dulu, sebelum bapak jadi PNS dengan profesi bujang sekolah itulah kehidupan paling keras yang pernah kami sekeluarga alami. Dihina orang, dikucilkan, diabaikan dan banyak lagi yang kadang membuat ibu kerap bermuram durja. Tapi ibu selalu punya kekuatan untuk melawan semua penderitaan. Tak percaya kalo bapak bisa jadi PNS, betapa tidak ijazah SD saja bapak tidak punya. Tapi berkat mukjizat dari Allah SWT bapak diangkat langsung oleh pemerintah daerah dan pusat sebagai PNS dan memakai seragam kebesarannya itu. Titik balik kehidupan kami dimulai dari sana. Meski tak begitu pesat.

Mau tahu kenapa bapak bisa jadi PNS padahal ijazah SD saja tak punya? Karena kakek mewakafkan tanah luasnya untuk pembangunan sebuah sekolah SMP di desa kami. Sebagai jasa, maka diangkatlah bapak jadi PNS. Bapak tidak bisa membaca dan menulis tapi bapak bisa membaca kitab Qur'an mulai dari yang berbaris sampai kitab Gundul. :D ah, mari lupakan sejenak tentang itu.

Nah, meskipun ayah sudah jadi PNS tapi keadaan keuangan keluarga masih memburuk. Aku sekolah dari SD sampai SMA selalu memakai baju seragam bekas kakak, aku tidak pernah dibelikan baju baru untuk sekolah. Karena aku pun ingin demikian, kasihan ibu bila aku harus ngotot dibelikan baju seragam sekolah yang baru. Ibu harus dapat uang dari mana? Meski demikian satu hal yang tidak pernah aku lupa adalah setiap kali ibu menghadiahi aku seragam sekolah bekas kakak, sebelum diserahkan padaku ibu selalu mencucinya hingga bersih dan menyetrikanya pakai setrika arang. Biar kelihatan lebih baru dan rapih. Ibu memang hebat dalam hal membuat barang lama jadi barang baru. :)

"Kamu sekolahlah yang benar, jangan kecewakan ibu. Ibu di sini (sambil menunjuk dada kiri aku), di hati kamu. Kalau kamu merasa tersesat ingat ibu dan kamu akan mendapatkan jalan atas masalahmu."

Itu kalimat ibu yang selalu ampuh membuat aku menangis dan jadi kuat kembali.

Ibu itu cantik, perempuan pertama paling cantik yang pernah kutemui. Aku perempuan keduanya. hehehe
Ibu bagi aku adalah segala-galanya yang menjadi prioritas. Karena ibu pulalah aku tidak ingin menyerah dalam sekolah, selalu berusaha memberikan yang terbaik. Di SMP aku pernah berjanji pada ibu, bahwa kelak ibu akan berdiri di atas podium aula sekolah untuk menerima penghargaanku sebagai siswa dengan nilai terbaik. Ya, jadi di sekolah dulu di SMP aku, setiap kali pembagian raport orang tua siswa di panggil untuk mengambi raport anak-anaknya. Dan siapapun yang anaknya meraih nilai paling tinggi di kelas maka ia berhak naik podium dan menerima penghargaan dari Kepala Sekolah. Aku berhasil membuat ibu berdiri lebih dari sekali di atas podium. BANGGA! 

Akhirnya seirng waktu bergulir, tubuh ibu semakin tua, keriput dimana-mana dan ia sudah bercucu. Ibu pun menderita penyakit Diabetes. Segalanya berubah total, ibu sering sakit-sakit. Keluar masuk rumah sakit entah sudah kali keberapa. Saat aku sudah mengerjakan tugas akhir kuliah yaitu skripsi penyakit ibu semakin parah. Selain diabetes, ibu juga kena penyakit ginjal, jantung dan hati. Penyakit ibu komplikasi. Aku merasa lemah saat itu, pikiran aku terbagi. Kuliah dan kesehatan ibu. Aku harus bolak balik menempuh jarak kurang lebih 60 km tiap minggunya untuk memastikan bahwa keadaan ibu baik-baik saja.

Lalu, ibu akhirnya sudah tidak bisa menahan rasa sakit lagi. Ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir tepat sesaat sebelum fajar dan adzan subuh di masjid rumah sakit di kumandangkan. Padahal sebelumnya ibu telah diberi kabar baik oleh dokter bahwa ia sudah boleh pulang. Tapi malam itu Allah berkehendak lain, ibu memang pulang ke rumah tapi sudah dalam keadaan tak sama lagi.

Di saat-saat terakhir ibu, beliau hanya menatap aku lamaaa sekali kemudian ia memeluk aku sangat dalam. Ibu juga melakukan 'ritual' antara aku dan ibu yaitu mencium wajahku mulai dari kening, pipi dan hidungku. Aku hanya bisa menangis, air mataku semakin deras seiring nafasnya yang mulai tak beraturan. Ibu menuntunku melihat prosesi akan dicabutnya nyawanya mulai dari kaki. Ibu memperlihatkan itu semua padaku, katanya biar suatu saat nanti aku tak pernah takut menghadapi orang mati dan kematian. 

Aku menuntun ibu baca syahadat, namun aku tak bisa lama melakukannya sebab pandanganku sudah lebih dulu gelap. Aku kehilangan ibu. Tepat di saat jadwal ujian akhirku sudah keluar. Padahal aku ingin sekali ibu menyaksikan aku memakai toga kebanggan. Namun semua itu tinggal kenangan. Ibu sudah pergi selama-lamanya dan siapapun tak akan bisa mengubah takdir.

Ibu, berpulang ke rahmatullah menjelang subuh tanggal 2 agustus 2009. Sebentar lagi, genap 4 tahun kepergian ibu. Rindu ini masih sama, rindu yang tak pernah bisa kuelak. Rindu yang selalu membuat aku menggigil di malam buta. Menangis diam-diam dan memeluk bingkai foto aku dan ibu. 

Ibu,
fajar menjemputmu
suara adzan mengantarmu
ke tempat peristirahatan terakhirmu
air mata tak berarti lagi
semua akan kembali
tinggal waktu mengadili
hari itu pasti kan tiba.

Ibu,
terimakasihku
tak terkira rasanya bahagiaku
lahir dari rahim sucimu
menjadi bagian dari darahmu
dan mewarisimi tekstur wajahmu
aku bangga punya ibu.

Ibu,
doa sudah kulangitkan
sebagaimana engkau yang senantiasa
melangitkan doa doa di malam sunyi
untukku, untuk kakak dan untuk ayah
kau selalu berkorban
apapun itu, 
kau selalu punya cara
membuat kami tersenyum
dengan berkata: semua baik-baik saja

Ibu,
aku merindukanmu...

Sabtu, 27 Juli 2013

Cintaku Jauh Di Pulau Dan Lelaki yang Tak tahu jalan Pulang



.....
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ’kan sampai padanya
.....
-Chairil Anwar-

Cintaku jauh di pulau, masih mending ada yang menunggu. 

Kaki kecil Suatan sedang berusaha menyelaraskan langkah sebelah kakinya lagi yang normal. Ini perjalanannya yang kesekian, ia telah meninggalkan kampung halamannya terlalu jauh. Tak lagi terhitung angka dalam kilometer, ia sudah lelah menghitung. 

"Apa kau pulang nanti Suatan?" Tanya seorang teman sesama perantau ketika ia sampai di kedai kopi langganannya.
"Pulang kemana?" Suatan balik bertanya seraya menyeruput dalam kopi hitam di gelasnya.
"Masa kau tak punya kampung halaman?"
"Aku tak ingat jalan pulang. Kau sendiri mau pulang?"
"Iyalah, sudah lama tak berjumpa dengan isteri."
"Kasian isterimu kau tinggal jauh begitu."
"Apa boleh buat." Jawab temannya, ia meneguk habis kopi terakhirnya. Lalu pergi.
...
Suasana di kedai kopi terlalu sepi. Suatan hanya berdua tadi dengan temannya sesama perantau, tapi dia sudah pergi juga. Kini tinggal dia yang menunggu kopi itu habis. Bagaimana ia harus pulang, seseorang yang menunggupun tak ada. Dia sudah terusir, keadaannya yang tak normal membuat ia disebut lelaki tak berguna dalam keluarga. Kini kaki kecilnya nyaris melepuh, ia menghabiskan hidup sendiri.

Dahulu, ia punya kekasih. Jauh di sana. Suatan menyeka titik air yang meleleh di kedua pipinya saat ramai-ramai orang bersuka cita menyambut hari kemenangan. Lebaran kesekiannya tanpa keluarga. 

"Ratih, apa kau masih ingat padaku? Aku hanya memperhatikanmu seorang. Tapi karena keadaanku, aku harus rela melepas demi kebahagiaanmu. Aku bukan lelaki yang baik untukmu, aku hanyalah perantau yang tak pernah menemukan jalan pulang. Selamat lebaran, semoga kau dalam suka cita." Suatan berkata lirih sembari memandang terangnya langit.

Suatan menenggak habis kopi di gelas itu, membayar lalu pulang. Sepi selalu saja melangkah bersamanya. Ia bersyair, syair yang ia kutip dari seorang tokoh besar yang mati muda. 

....
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ’kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan dintaku!?

Manisku jauh di pulau,
kalau memang ’ku mati, dia mati iseng sendiri.
....
Sumber Gambar: Google.

Jumat, 26 Juli 2013

#Untukmu1 : Hujan Tanpa Awan




Hujan Tanpa Awan

Jaket abu-abu dan sekelumit kisah kelabu
Aku dan kamu hanya sehari yang sore.
Lalu kita pulang membawa sebuah tanda tanya.
Kita bercerai padahal belum memulai
Hujan mengucur di lenganmu
Ini sepi selalu ada.

Ada tanyaku yang tak sempat kau jawab
Semoga kau ingat.
Bila tak punya jawaban,
biar hujan menggantikan tugasmu
mungkin seluruhmu memanglah abu abu.

Di tubuhku telah jadi sarang luka
Pada bekas ciummu, di sana tepat terasa nyeri
Aku ingat namamu yang dulu kau tulis di punggungku
Tapi di punggung itu pula telah bersarang luka menganga
Darah darah mengalir di sana
Sebagai hujan yang kau biarkan tanpa awan.

Hujan rintih rintih, 27 Juli 2013



Tentang Kenangan


........
Wherever you go whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
........



Right Here Waiting For You... Lagu ini selalu mengingatkan aku padamu, entah dimanapun dan dalam keadaan apapun jika lagu ini mengalun pelan maka sejenak seluruh aktifitas aku hentikan. liriknya begitu dalam, sebagaimana aku selalu menunggu. Barangkali sampai habis waktu. 

Aku sebut ia cinta pertama, atau cinta yang menggugah pikirku untuk yang pertama kalinya. Just R, begitu aku memanggilnya. Kali ini aku kembali menuliskan tentangmu setelah sekian lama ya R. Jika dinominalkan dalam angka, ada 365 hari dalam satu tahun. Aku menunggumu 7 tahun 1 bulan. Berarti 7 x 365 + 30 hari = 2585 hari belum lagi dinominalkan ke dalam sepersekian detik waktu yang mana jika dikaitkan lagi soal rasa maka tak terhitung lamanya aku sudah menunggu. 

Jika teringat derai derai tawa kita setiap kali bersama, aku kerap tersenyum sendiri dalam keheningan. Betapa kuatnya rasa kita kala itu ya. Jalan-jalan romantis kita di suatu sore di pantai dan makan malam yang selalu berakhir berantakan. Juga seluruh cerita-cerita kekonyolan yang ada. Aku merasa bodoh waktu kau memintaku berkenalan dengan orang tuamu, waktu itu jujur aku gugup dan takut karena itu aku kabur meninggalkanmu. Aku belum sanggup...

Setelah itu kita berdua saling diam, kau marah. Ah, bahkan dalam keadaan marahpun kau tetap saja orang yang pertama kali kucintai. Aku senang melihatmu dalam keadaan marah sama halnya aku senang menatapmu ketika engkau tidur. Aku sering takut cinta kita berakhir, juga tidak ingin kisah kita seperti dua mata kita "Berdekatan namun tidak bisa saling menatap".

Iyah, R kamu sungguh benar-benar membuatku bahagia kala itu. Sampai akhirnya semua kebahagiaan itu hilang. Aku ingat betul, aku menangis selama 3 hari di kamar. Aku tak pernah menangis selama itu. Hanya ketika kau menelponku untuk terakhir kalinya, saat itulah aku berhenti menangis. Aku akhirnya paham, mengapa kita harus menjadi sepasang dua bola mata itu.

Bagaimana pun aku tetap menunggu, aku ingin sekali waktu berpihak sekali lagi kepada pertemuan kita. Rinduku nyaris meledak, aku tidak tahu menghadapi kecamuk rindu di malam buta saat diam-diam kau menyelinap ke dalam benakku dan aku memimpikanmu. 

Hei, R kamu apa kabar? 
Sudah kau dapatkan wanita yang kau cintai?
Aku belum. Entah kapan, bisa menemukan sosok yang sama atau setidaknya bisa membuatku bahagia sebahagia bersamamu.

Aku titipkan rindu untukmu,
lewat desau angin, kukirim lagi senyum dan tawaku
semoga kau ingat. 



Just R, 
untukmu aku menunggu